Senin, 11 Februari 2013

Harga Rumah yg semakin mahal membuat rakyat menderita

Kabartop.com – Bagi banyak warga kaya di Hong Kong, salah satu kota termakmur di Asia, rumah adalah tempat tinggal mewah dengan pemandangan kota dari puncak Victoria Peak. Untuk warga termiskin seperti Leung Cho-yin, rumah adalah kandang besi, mirip kandang kelinci.

Tukang tukang jagal berusia 67 tahun itu membayar 1.300 dolar Hong Kong (Rp.1,6 juta) sebulan untuk tinggal dalam salam satu dari selusin ruangan mirip kandang kelinci dalam sebuah apartemen di daerah kumuh untuk kelas pekerja di West Kowloon.

Kandang-kandang yang ditumpuk tersebut berukuran 1,5 meter persegi. Untuk mengusir kutu busuk, Leung dan teman sekamarnya menaruh bantal tipis, tikar bambu dan tutup lantai linolium di atas papan kayu sebagai pengganti kasur.

“Sudah sering digigit, sudah biasa,” ujar Leung, sambil memperlihatkan luka-luka gigitan di tangannya. “Tidak ada yang bisa dilakukan. Saya harus tinggal di sini. Saya harus bertahan,” ujarnya sambil terbatuk-batuk.

Sekitar 100.000 orang di bekas koloni Inggris itu tinggal dalam rumah yang tidak layak, menurut Masyarakat untuk Organisasi Komunitas, sebuah kelompok kesejahteraan sosial.

Kategori rumah tak layak termasuk apartemen yang dibagi-bagi menjadi ruang-ruang sangat kecil atau berisikan kompartemen kayu dan logam sebesar peti mati, dan juga gubuk-gubuk di atas atap gedung.

Mak, 72, telah menempati rumah kandang selama 10 tahun terakhir. “Tidak ada yang ingin tinggal di sini, tapi kita perlu untuk bertahan hidup,” kata Mak, yang bekerja sebagai petugas kebersihan di Times Square di dekatnya dan nyaris tidak membuat cukup untuk menutupi sewa nya. “Ini adalah pilihan terakhir daripada tidur di jalan-jalan.”

Mereka ditumpuk dalam dua tingkat – HK $ 775 (Rp.965 ribu) untuk sebuah kotak kubus di atas dek dan HK $ 1.160 (Rp. 1.450 ribu) untuk tidur lebih rendah. Kotak kubus yang lebih rendah lebih mahal karena Anda hanya bisa nyaris berdiri tegak di dalamnya. Secara matematika pemilik rumah kelinci ini mengumpulkan sekitar HK $ 19.375 (Rp.24,1 juta) dari orang-orang di sana.

Mereka terpaksa tinggal dalam tempat yang penuh sesak, kotor dan tidak aman tersebut karena harga perumahan yang selangit.

Selama ini kemarahan publik telah mencapai puncaknya karena krisis perumahan ini.

Eksekutif Kepala Hong Kong, Leung Chun-ying yang menjabat sejak July telah berjanji menyediakan perumahan yang lebih terjangkau. Harga rumah naik 23 persen pada 10 bulan pertama 2012 dan naik dua kali lipat sejak 2008 saat krisis keuangan global, menurut laporan Dana Moneter Internasional (IMF) bulan lalu. Harga sewa ikut melambung.

Biaya perumahan dipicu oleh kredit ringan berkat bunga yang sangat rendah dan tidak dapat dinaikkan oleh pembuat kebijakan karena mata uang terkait pada dolar. Uang yang mengalir dari daratan Tiongkok dan investor asing yang mencari keuntungan lebih besar turut meningkatkan harga.

Dalam pidato pelantikannya pada Januari, sang eksekutif kepala mengatakan ketidakmampuan kelas menengah untuk membeli rumah mengancam stabilitas sosial dan ia berjanji memprioritaskan penanganan kurangnya perumahan.

Ia berencana meningkatkan persediaan perumahan umum dalam jangka menengah dari 15.000 apartemen per tahun.

Komentarnya memperlihatkan perbedaan dari pendahulunya Donald Tsang, yang mengabaikan persoalan ini. Namun para wakil rakyat dan aktivis mencerca Leung karena kurangnya upaya untuk mendorong adanya perumahan dalam jangka pendek.(Poskotanews.com)

sumber : kabartop.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar