Jumat, 18 Januari 2013

FLOOD DEFENCE:Silahkan belajar MENGENDALIKAN BANJIR DGN POMPA, ini bisa DILAKUKAN KURANG DARI 100 HARI. Jangan lihat mereknya, krn merek pompa bisa apa saja yg penting spesifikasi teknis masuk

Banjir di Bundaran HI Thamrin Kamis 17 Januari 2013
Korban banjir mengungsi di halte bis



When disaster strikes, a poorly designed pumping station is practically useless. However, we never learn until it’s too late.

The medias are full of examples of poor pumping station design and the tragic consequences of it, including the tsunamis in Asia and Hurricanes on USA’s east coast.

Today, fooding is the most common cause of disaster in the world and by far the fastest growing – and with it follows the need for properly designed and reliable pumping stations.

Based on our expertise within pump solutions, this handbook ofers guidelines and recommendations to reliable pumping station design that will protect or limit damages to people and infrastructure.

We hope you will use the handbook in your work with pumping station design. For additional information or assistance, please contract your local Grundfos sales representative or the Grundfos Water Utility Competence Centres.

The flood risk cycle





















































Dokumen dalam bentuk 134 halaman, pdf file silahkan download www.grundfos.com


Blusukan itu menjadi TIDAK BERMANFAAT kalo warga DKI tetap kebanjiran



Jakarta - Awal tahun ini, antara lain, dunia media kita diramaikan dengan satu istilah jawa: blusukan, yang artinya masuk ke tempat-tempat yang tidak nyaman bagi kehidupan umum manusia. Blusukan bisa dilakukan dengan masuk ke kebon kosong, hutan belantara atau mungkin rawa-rawa. Dalam konsep ini, blusukan tidak memiliki sebuah tujuan yang jelas, baik itu dalam konotasi positif maupun negatif.

Awal minggu kedua Januari 2013 ini, media mengerek isu tentang blusukannya Jokowi dan SBY. Jokowi yang sejak kampanye Pilgub lalu berjanji akan lebih banyak di lapangan daripada di balik meja, dibuktikan sudah. Ia tidak enggan untuk memasuki wilayah kumuh, gang sempit, pinggir sungai, daerah banjir hingga masuk selokan got berbau tidak sedap. Meski belum ada hasil yang jelas atas aksinya itu, Jokowi dinilai sudah menunai ketenaran yang luar biasa di kalangan masyarakat ibukota, khususnya masyarakat marginal.

Di tengah-tengah sepakterjang Jokowi menyambangi daerah kumuh sambil mencari solusi, tiba-tiba saja SBY melakukan hal yang mirip. Ia mendatangi daerah papa di sebuah pantai di Jawa Barat. Dalam kunjungan yang konon tak direncanakan itu, Presiden melakukan pembicaraan dengan masyarakat, memberikan solusi sambil menginstruksikan para menteri terkait untuk tindak lanjut.

Ya, namanya juga wartawan, kunjungan SBY itu kemudian dikait-kaitkan dengan gaya Jokowi yang memang suka blusukan dan meraup popularitas. Padahal, model kerja blusukan ini bukan sesuatu yang baru. Sudah ada sejak zaman Sahabat Nabi Muhammad, Soekarno, Soeharto, dan juga telah banyak dilakukan SBY sebelumnya. Namanya macam-macam, mulai Turba (turun ke bawah), Sidak (inspeksi mendadak), hingga blusukan. Namun intinya tetap sama: mengecek kondisi riil sehingga tahu persis apakah kebijakan atas jalan di tingkat bawah, atau sekedar mencari masukan yang sebenarnya.

Blusukan dan apapun namanya, dalam tataran konsep selalu saja positif. Pimpinan diharapkan bukan hanya mampu menelorkan kebijakan, namun juga mengecek pelaksanaan di lapangan. Tidak dikibuli oleh bawahan. Masalah berapa frekuensi blusukan, sangat tergantung pada keadaan dan lingkungan. Ketika mekanisme kerja sudah berjalan lancar, maka blusukan tidak terlalu diperlukan. Namun bila sebaliknya maka blusukan bisa jadi sebuah keharusan secara rutin.

Yang memang tidak bisa atau sulit dinilai adalah niat blusukan. Niat ini ada di dalam hati dan yang tahu hanya yang blusukan, Tuhan dan mungkin juga para malaikat. Ada orang yang blusukan tapi niatnya cari popularitas. Sekedar pencitraan saja. Jadi, setelah sukses mendapatkan kepercayaan maka segera melenggang dan melupakan apa yang pernah diucapkan. Istilah sekarang: “janji-janji pilkada”.

Tapi, ada juga yang sebaliknya. Setelah blusukan maka segera come up dengan konsep-konsep yang diaplikasikan dengan benar. Karena tahu persis kondisi lapangan, maka kebijakannya manjur alias doable. Masyarakat mendapatkan manfaat dari pemimpin yang sangat tahu aspirasi di akar rumput.

Media dan beberapa kalangan, kadangkala tidak mudah percaya terhadap orang atau pejabat yang blusukan. Atau kadangkala malah menaruh curiga. Blusukan cepat sekali diasosiasikan sebagai kegiatan cari muka atau carmuk di mata publik. Menjual “seolah-olah” padahal ada udang di balik batu.

Dari satu sisi, kecurigaan semacam itu sangat tidak elok. Sebab, dalam tradisi apapun, manusia harus mengedepankan pola pikir yang positif. Tidak memberikan penilaian negatif sebelum hal itu memang terbukti. Namun, disisi lain, pandangan miring tersebut bisa juga dinilai sebagai sebuah alarm bagi pejabat yang blusukan agar menjadikan kegiatannya tersebut bernilai positif bagi masyarakat.

Sebenarnya, niat apapun yang dicanangkan oleh mereka yang blusukan itu tidak perlu dikhawatirkan. Dalam masa tertentu, niat itu akan terbukti dengan sendirinya. Tidak perlu bertanya kepada malaikat ataupun Tuhan. Cukup lihat bagaimana perkembangan setelah dilaksanakannya kegiatan blusukan tadi.

Blusukan yang niatnya tidak tulus, sudah pasti tidak akan terjadi tindaklanjut bagi penyelesaian masalah. Yang ada adalah kepura-puraan semata. Jika blusukan dilakukan menjelang pemilu misalnya, maka niat itu akan terungkap pasca pemilu saat yang bersangkutan menjabat. Janji-janji palsu ditebar dan begitu menduduki jabatan, seolah tidak pernah mengucapkan apapun. Jikalau blusukannya dilakukan pada masa menjabat, tunggu saja kelanjutannya dalam waktu tiga sampai setengah tahun kedepan. Semua akan menjadi jelas dan nyata.

Nah, daripada berprasangka apapun terhadap yang dilakukan oleh Jokowi maupun SBY. Mari kita tunggu saja babak selanjutnya. Apakah ada tindak lanjutnya atau mandeg sebatas kunjungan. Kalau ada perbaikan berarti niatnya baik, dan bila tidak mari bersama-sama kita ramai-ramai kritik dan ingatkan.

*) M. Aji Surya, Penulis adalah pengamat sosial alumnus UII Yogyakarta

sumber : detik.com



Mengerikan basement (ada 4 lantai basement) Plaza UOB di jalan Thamrin terendam banjir, korban terjebak lebih dari 30 jam krn penanganan sangat lambat sbb pompa yg digunakan spesifikasinya tidak memadai dibanding debit air yg ada di dalam gedung. 30 jam pertama bahkan 1 lantai basement saja belum selesai dikuras.

Korban Tewas di Plaza UOB Ditemukan Menggantung di Pipa


Jakarta - Korban tewas di Plaza UOB, Sudirman, Jakarta ditemukan. Pria berseragam abu-abu itu tak bernyawa menggantung di pipa. Diketahui, pria itu bernama Abdul Haris.

"Sekitar pukul 05.30 WIB, ditemukan tim Marinir," kata petugas pemadam Andri saat dikonfirmasi, Sabtu (19/1/2013).

Jasad Abdul Haris sudah dibawa ke RS Abdi Waluyo. Rekan kerja Abdul Haris, sudah mengidentifikasi jasad korban. "Kondisi korban sudah kaku. Menggantung di pipa," imbuhnya.

Hingga pukul 09.00 WIB, Tim Marinir dan Pemadam terus melakukan pencarian. Air masih menggenang di basement. Diketahui, di basement juga terdapat sebuah food court. Ada ratusan mobil di parkiran itu.

Mobil pemadam juga terus melakukan penyedotan air. Pada Jumat (18/1) malam, seorang pekerja berhasil diselamatkan dari basement itu.

sumber : detik.com

Kronologi 2 Pegawai Plaza UOB Ditelan Banjir

Keduanya terjebak banjir saat berada di basement I gedung itu.


VIVAnews - Petugas masih melakukan pencarian terhadap dua pegawai Plaza UOB yang hilang saat banjir menerjang. Kapolsek Tanah Abang Ajun Komisaris Besar Suyudi, mengatakan dua pegawai yang dilaporkan hilang itu atas nama Tri dan Tito.
Keduanya terjebak banjir saat berada di basement I gedung itu. Ketika banjir masuk sekitar pukul 10.30 WIB, keduanya sedang berusaha menahan air agar tidak masuk ke basement. Namun tiba-tiba, air datang seperti air bah dan keduanya tidak sempat naik untuk menyelamatkan diri.
"Saat mereka ingin naik, air sudah keburu masuk, akhirnya terjebak," kata Suyudi kepada VIVAnews, Kamis 17 Januari 2013,

Sejauh ini polisi sudah memeriksa seorang saksi yang mengetahui hilangnya korban. Berdasarkan keterangan saksi, saat air masuk ada sejumlah mobil yang diparkir di basement.
"Ada banyak sekitar tujuh mobil," ucapnya. Polisi juga masih mencari kemungkinan ada korban lain yang hilang. (umi)
Sumber viva.co.id






Ini Kisah Korban Selamat 'Tsunami' Plaza UOB kepada Wamenkes


Jakarta - Kondisi kedua korban selamat 'tsunami' sudah membaik. Saat dijenguk Wamenkes Ali Gufron, mereka menuturkan kisahnya saat berada di basement Plaza UOB Jakarta dan diterjang banjir dahsyat.

"Dia melihat tidak ada hujan di luar tapi karena begitu cepat air dari bawah ke atas sampai mereka tinggal napas kesulitan," ujar Ali usai menjenguk korban di RS Abdi Waluyo, Jl HOS Cokroaminoto, Jakarta Pusat, Sabtu (19/1/2013).

Membaiknya kondisi korban itu antara lain terlihat dengan sudah bisa diajak berkomunikasi dengan cukup lancar. "Itu tadi diceritakan oleh mereka," kata Ali.

Bahkan kepada Ali, korban selamat mengatakan ada sopir yang tertahan di dalam mobil. Untunglah, sopir itu sudah ditolong.

Terkait kesan tertutup RS atas kondisi korban, dr Sutrisno dari RS Abdi Waluyo menjelaskan RS tidak bisa memberikan keterangan medis begitu saja. Keterangan harus diberikan berdasar izin keluarga, kepolisian, atau kejaksaan.

"UOB sudah bertanggung jawab. Jadi saya mohon maaf atas kekecewaan yang tidak berkenan, saya mohon maaf," kata dr Sutrisno menanggapi keluhan atas ketidakterbukaan pihak RS.

Jumat (18/1) pagi seorang pekerja ditemukan dalam keadaan kaku dan dilarikan di RS Abdi Waluyo. Satu korban lainnya bernama Tito, ditemukan pada Jumat kemarin pukul 22.53 WIB dan langsung dibawa ke RS yang sama. Sementara itu dua orang lainnya ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa.

(vit/aan)

sumber : detik.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar