Kamis, 24 Januari 2013

Proyek Banjir Kanal Timur Tahap II Paket 30

Written by Danial   
Saturday, 07 July 2012 00:31

Guna optimasi fungsi Banjir Kanal Timur (BKT) yang bakal membantu dalam pengendalian banjir kota Jakarta , maka  seluruh infarstruktur dari BKT harus sudah terbangun sesuai desain. Hal ini dilakukan agar dalam pengoperasian nanti, saluran BKT mampu mengemban tugasnya sebagai sarana pengendalian banjir dan fungsi lainnya secara optimal. Untuk merealisasikan maksud tersebut, maka Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum RI melalui Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane,sesegera nungkin menyelesaikan  proyek prestisius di Jakarta ini.

Menurut Kepala Satker Proyek BKT Tahap II, Parno ME, pelaksanaan proyek BKT tahap II terutama untuk paket 30 memang sudah relatif ringan masalah sosialnya. Walaupun masih ada, tapi tidak muncul problem berarti dan proyek bisa berjalan sesuai harapan. Lalu soal problem tanah, diakui, memang masih ada, namun tidak signifikan dan kini sudah bisa ditangani dengan baik.

Membangun kolam anti sedimentasi
Soal progres, menurutnya, sudah sesuai harapan bahkan bisa ahead schedul. Jadi ke depan waktu penyelesaian proyek ini bakal lebih cepat dari rencana. Karena dari sisi dana saja akan habis di tahun ini dan di tahun 2012 tidak ada lagi dana untuk proyek BKT. “Pembangunan BKT akan selesai total di tahun 2011 sesuai penyediaan anggaran yang dialokasikan oleh pemerintah,” paparnya.

Pada paket ini yang perlu mendapat perhatian, ujar Parno,  ketika harus merelokasi pipa penyaluran gas yang terpotong saluran BKT. Sebelumnya posisi pipa tersebut disangga dengan tiang besi untuk mengamankan agar tetap berfungsi baik. Nah ketika saluran BKT harus dirapihkan, maka pipa ini pun harus dipindahkan dan tertanam demi keamanan.

Sedikitnya ada dua pipa berdiameter masing-masing 16 inchi dan 8 inchi yang butuh metode khusus untuk merelokasinya.  “Walaupun pekerjaan relokasi pipa hanya 10 persen bobotnya tapi sangat menentukan, karena tidak semua kontraktor bisa melaksanakannya,” ungkap Parno. Kontraktor yang bisa merelokasi kedua jalur pipa itu merupakan pemborong yang sudah berpengalaman di proyek-proyek gas dan Pertamina.

Di samping itu, yang butuh penanganan khusus yaitu pada saat membuat break water di bagian paling hilir proyek. Membuat infrastruktur jetty yang dibangun pada lokasi paling ujung dan berbatasan dengan laut itu, merupakan sarana vital karena akan membantu optimalisasi fungsi saluran BKT ini. Break waterini berfungsi sebagai penahan gelombang air laut yang langsung bertemu dengan aliran air dari saluran BKT. Dengan begitu, maka tingkat sedimentasi yang terjadi di mulut muara saluran BKT bisa diminimalkan.

Menurut Parno, kehadiran break water itu sendiri memperpanjang saluran BKT menjorok ke laut untuk menghindari tingkat pengendapan yang tinggi. “Pada umumnya kerusakan saluran sungai yang masuk ke laut terkendala oleh tingkat sedimentasi yang tinggi, sehingga akan mengganggu flow atau aliran air sungai tersebut. Demikian halnya dengan saluran BKT ini, kalau tidak dibuatkan saluran menjorok ke tengah laut akan terjadi masalah yang sama.

Soal desain dan metode kerja khusus untuk pembuatan break water, ujarnya, dengan cara menggelar anyaman bambu utuh yang dirangkai lalu ditenggelamkan dan di atasnya digelar geotextile. Setelah itu baru ditimbun  batu dengan diameter tertentu hingga ketinggian yang diinginkan. Setelah mencapai level tinggi break water yang direncanakan, baru di atasnya dibuat semacam jalan inspeksi untuk keperluan pemeliharaan. Bobot pekerjaan ini mencapai 20 persen dari total pekerjaan BKT tahap 2 paket 30.

Diakui, perubahan metode untuk pembuatan break water memang ada konsekuensinya terhadap penambahan  dana, namun masih tertutupi dengan anggaran yang disediakan. Karena dari sisi nilai tidak terlalu tinggi dan tidak membebani anggaran proyek, maka perubahan desain metode kerja pembuatan break water dinilai aman.

Sedangkan untuk pekerjaan lain seperti perapihan pintu saluran dan pembuatan jalan inspeksi di sisi kiri dan kanan saluran BKT tidak butuh penanganan khusus. Bagaimana halnya dengan pembersihan saluran BKT yang kini banyak tertutup sampah dan eceng gondok? Menurut Parno, itu bukan merupakan bagian pekerjaan paket sekarang, namun akan menjadi  tugas dan kewajiban Dinas Kebersihan Pemprop DKI Jakarta. Dinas ini akan bertugas merawat operasional saluran BKT agar tetap berfungsi secara optimal.

Kendati ada beberapa perubahan  desain pada beberapa bagian pekerjaan di paket ini, namun tercatat tidak signifikan dan proyek ini diberikan kelonggaran dana untuk mengantisipasi perubahan di lapangan sebesar 10 persen dari total dana yang dibutuhkan.  “Terus terang penambahan anggaran akibat berbagai hal di lapangan, hanya berkisar 2 persen saja,’ ungkapnya.

Khusus untuk pekerjaan break water, Parno yakin bisa dilaksanakan dengan lancar, karena kontraktor pelaksana sudah punya pengalaman membangun break water di pantai utara Jakarta seperti di Ancol. Diakui, dari jadwal yang dibuat, penyelesaian BKT tahap 2 paket 30 ini  akan sesuai rencana semula dan Desember 2011 bakal rampung.

Bagaimana halnya dengan jalan inspeksi yang sudah dibangun dengan rigid pavementlayaknya jalan tol? Menurut Parno, jalan inspeksi ini tidak diperuntukkan bagi lalu lintas berat dan hanya untuk dilalui  motor dan mobil sedan dan sejenisnya.
Mengenai adanya saluran air dari beberapa lokasi perumahan atau kawasan di sekitarnya, menurut Parno, BKT didesain tidak menerima air buangan dari saluran di sekitarnya yang berasal dari komplek perumahan. Namun sudah disediakan saluran gendong yang berada di sisi kiri dan dan kanan saluran BKT. Saluran gendong ini menerima buangan air yang berasal dari masyarakat sekitar, Sehingga dalam operasionalnya tidak boleh ada saluran yang menembus masuk ke saluran BKT. Apalagi ditanggulnya tidak disediakan inlet untuk menampung air dari saluran di sekitarnya.

Perapihan tahap akhir
Pekerjaan BKY tahap II paket 30 ini dipercayakan kepada PT Jaya Konstruksi MP melalui tender bebas bersaing dengan kontraktor lainnya. Menurut Manajer Proyek Jaya Konstrksi (Jakon), Ir. Sena Kuswara, pihak Jakon, dipercaya untuk menangani pekerjaan BKT tahap II paket 30 sepanjang  11,8 km. Lingkup pekerjaan yang digarap meliputi pembuatan jalan inspeksi, perapihan tanggul dan pembuatan kolam  anti sedimentasi dengan konstruksi break water di bagian paling hulu saluran BKT.

Diakui, pada kondisi awal untuk tahap II ini semula merupakanlokasi BKT tahap I terdiri dari  paket 22, 23 dan 24 yang kondisinya belum sempurna sesuai desain. Nah di tahap II ini diupayakan rampung sesuai desain  rencana saluran BKT. Jadi di tahap II paket 30 merupakan pekerjaan perapihan tahap akhir BKT, karena nantinya sudah dianggap selesai dan tidak ada lagi alokasi dana untuk tahap berikutnya.

Menurut Sena, pada paket  22, 23 dan 24 kondisi  badan tanggul sudah terbentuk semua. Namun untuk struktur atasnya pada paket 22 kondisinya masih timbunan tanah. Pada paket 23 sudah dilapis base course klas A dan paket 24 timbunan masih sebatas situ. Pada paket 30 ini, ujarnya, tinggal pekerjaan berikut dengan lapisan paling atas memakai beton setebal 25 cm dan lebar 5m. Namun ada beberapa bagian yang lebarnya hanya 4 m. Volume rigid untuk jalan inspeksi tercatat mencapai 27.000 m3.

Pekerjaan perkerasan jalan inspeksi secara teknis ujar Sena tidak muncul problem hanya saja  banyak kendaraan yang melintas dan cukup mengganggu kelancaran di lapangan. Untuk jalan inspeksi, di sisi kiri dan kanannya dipasang cansteindan ditanami rumput sehingga terlibat lebih asri dan indah. Sementara pada beberapa bagian lain perlu dipasang conblock berlubang terutama yang berada di atas saluran BKT.

Diakui, pekerjaan jalan inspeksi memiliki bobot presentase cukup besar dan kini semua pekerjaan tersebut sudah selesai. “Alhamdulillah selama pelaksanaan perapihan saluran BKT paket 30 ini, cuaca cukup mendukung, sehingga semua tahapan pekerjaan lancar,” ungkapnya. Seiring dengan pekerjaan darat, dilakukan pula pekerjaan di sisi laut.

Membangun  break water
Saluran BKT yang masuk laut selalu terancam bahaya pengendapan yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan akibat desakan gelombang air ke arah darat. Jika kondisi ini dibiarkan maka sudah dipastikan hilir saluran BKT akan dipenuhi dengan endapan, sehingga kelancaran aliran dari saluran BKT ke laut akan terganggu. Untuk antisipasi kondisi ini, maka dibuat saluran menerus ke arah laut atau menjorok beberapa ratus meter ke tengah laut.

Dengan pembuatan jeti atau break water menjorok ke laut sepajang 400 m, maka bahaya sedimentasi akibat gelombang air laut ke arah  saluran BKT akan terhindarkan. Dengan demikian, ujar Sena, kelancaran aliran air dari saluran BKT bisa terjamin. Secara teknis konstruksi break water ini dibuat dengan  timbunan batu gunung dengan dimensi bervariasi. Timbunan batu ini ditopang dengan konstruksi cerucuk bambu dan di atasnya dipasang geotextile untuk kestabilan urugan batu tersebut.

Sebelum  penimbunan batu untuk break water dilaksanakan lebih dahulu dilakukan penggalian atau dredging untuk membentuk level saluran BKT sesuai desain. Kerena, ujar Sena, saluran yang berbatasan dengan laut masih merupakan tanah dasar aslinya, sehingga perlu disesuaikan  dengan level dasar saluran berdasarkan desain BKT. Volume pekerjaan dredging mencapai 265.000 m3.

Diungkapkan, desain break water semula tidak disyaratkan memakai konstruksi cerucuk bambu tapi setelah dicek dengan sondir ternyata tanah dasar di laut merupakan lapisan tanah lunak. Sehingga perlu treatment tersendiri agar mantap kestabilannya.  Upaya untuk meningkatkan daya dukung tanah di dasar laut dengan cara memancang cerucuk dari bambu rata-rata sedalam 7 m. Sedikitnya terpancang cerucuk 19.000 batang bambu dengan dalam bervariasi.

Nah, di atas konstruksi cerucuk dipasang rakit bambu yang dibuat sedemikian rupa sehingga berfungsi meningkatkan kestabilan tanah dasar laut ketika ditimbun batu untuk konstruksi break water. Sebelum ditimbun terlebih dahulu digelar geotextile di atas rakit bambu tersebut.

Penimbunan dari arah darat
Untuk penimbunan break water dilakukan dengan memanfaatkan jalan inspeksi yang sudah dicor sebelumnya, karena akses ke arah lokasi tidak tersedia dari tempat lain. Material batu yang didatangkan dari luar daerah dibawa ke lokasi proyek dengan ponton dan langsung dihampar pada lokasi penibunan. Dijelaskan, pola penghamparan batu dilakukan dengan memulainyai dari arah darat bergerak ke arah laut. Lebar timbunan breakwater paling bawah 30 m sedangkan pada bagian puncaknya selebar 3,5 m yang akan dimanfaatkan sebagai  jalan inspeksi. Tinggi break water dari seabed sekitar 5,5 m.

Penimbunan batu, tutur Sena, memakai dump truk biasa dan dibantu perapihannya oleh excavator. Untuk merapihkan bentuk break water dilakukan  dari arah laut dengan menggunakan 2 exavator yang bergerak bersama-sama . Perapihan ini untuk mendapatkan level tinggi dan lebar badan break water. Untuk bagian atas timbunan breakwater tidak dilapis dengan perkerasan beton tapi hanya diratakan agar lebih nyaman dilewati. 

Menurut Sena, ada yang cukup menarik dari pekerjaan break water ini, yaitu pada saat launching rakit bambu yang harus diturunkan bersama-sama untuk panjang tertentu. Satu rakit dengan rakit bambu lainnya diikat lalu diturunkan dan di atasnya langsung digelar geotextile, “Terus terang secara teknis di proyek BKT tahap II paket 30 ini tidak menemukan kesulitan berarti, hanya  pada saat menangani break water perlu kajian ulang metode kerja dan sistem penanganan kestabilan timbunan saja yang butuh perhatian khusus,” paparnya.

Sedangkan untuk  pekerjaan  pemindahan atau relokasi pipa gas ditangani sub kontraktor spesialis yang biasa bekerja di proyek gas dan minyak bumi. Walau semua pekerjaan sudah lancar tapi ada pekerjaan sheet pile yang tertinggal saat paket I berlangsung, karena tanahnya memang belum bebas, Untuk tahap  II ini pekerjaan sheet pile tersebut sudah diselesaikan, sehingga tidak ada lagi sisa sheet pile  yang belum dipancang,

Khusus untuk  mendatangkan material batu, ujarnya, butuh penanganan tersendiri, karena tidak bisa lewat jalan darat. Material baru dengan volume puluhan ribu m3 ini harus dimobilisasi lewat laut. Dan langsung dicurahkan pada lokasi break water yang pondasinya sudah dipasang rakit bambu dan geotextile. Material batu, tambah Sena, cukup lancar delivery-nya sehingga sangat mendukung pelaksanaan pekerjan break water.

Pekerjaan BKT tahap II paket 30 ini memang termasuk crash program karena harus rampung dalam 8 sampai 9 bulan dengan kontrak senilai Rp 231 milyar belum termasuk Ppn. “Kontrak BKT tahap II paket 30 memang besar dengan waktu singkat sehingga perlu penanganan secara seksama agar pekerjaan yang punya bobot besar segera selesai lebih awal,” ungkapnya.

Merubah desain dan menambah biaya?
Kendati pekerjaan yang ditangani sederhana, tapi volumenya besar maka tidak bisa dianggap remeh. Buktinya, untuk pekerjaan rigid saja harus dikebut siang malam, sekaligus memanfaatkan cuaca yang cukup mendukung untuk penggelaran beton di lapangan. Di sisi lain untuk memperlancar pelaksanaan proyek ini, pihaknya melibatkan tenaga expert dari ITB. 

Tenaga ekspatriat ini diperlukan terutama saat desain perkuatan pondasi dan stabilisasi tanah dasar laut untuk timbunan batu pada break water. Untuk meyakinkan kepada owner, kontraktor harus presentasi beberapa kali terkait dengan desain dan metode pelaksanaan untuk perbaikan tanah dasar break water.

Diakui, konsekuensi perubahan desain tentu ada implikasinya terhadap biaya. “Kalau melihat desain meragukan, maka kami akan melakukan cek ulang karena kalau tidak dilakukan revisi bisa berdampak in efisiensi pada pelaksanaan,” tegasnya. Demikian halnya untuk pekerjaan break water pada BKT paket 30 ini, perlu dilakukan value engineering guna mengoptimalkan desain dan metode pelaksanaannya,tambah Sena.

Andaikan harus mengikuti desain awal, dikhawatirkan timbunan batu untuk break water akan tenggelam dan giliran diserahkan ke owner tidak ada lagi bekasnya, Menurut Sena, cek desain memang sudah biasa dilakukan Jaya Konstruksi dalam setiap proyek untuk memberikan tingkat keamanan pada pelaksanaan dan optimasi fungsi proyek yang dibangun.[Rakhidin].

Artikel ini pernah dimuat pada Majalah MEDIA trenKonstruksi edisi Januari 2012 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar