Senin, 06 Agustus 2012

Fenomena Fauzi Bowo di Pilkada DKI

Akan ada putaran kedua pilgub DKI Jakarta. Kegagalan pasangan Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli meraih suara terbanyak dalam pemilihan tanggal 11 Juli memang mengejutkan. 


Kejutan tadi tentu mempengaruhi fokus dari kometar dan analisis yang diketengahkan mengenai hal tersebut. Semua pembahasan ini pada umumnya berkutat di sekitar gerakan suara dari “hard voters” “swing voters” dan “undecided voters”, yang tidak terduga sebelumnya. Jadi semua tulisan tersebut kiranya tidak mengacuhkan (over look) suatu kenyataan khas Jakarta yang juga tidak terpikirkan oleh rata-rata pemilih dalam pilgub. 


Sebaliknya semua pasangan Wagub-Cawagub, kecuali pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli, “kegagalan fundamental” kerja Fauzi Bowo selama ini selaku Gubernur DKI Jakarta dan karena itu mereka ingin perbaiki dengan aneka cara yang menurut mereka orisinil. Adapun “kegagalan” tersebut berupa kondisi Ibu Kota sehari "hari yang sangat kasat mata, sangat mencolok, hingga oleh salah satu pasangan lawan bersaing putaran pertama dengan akronim “kumis”, yaitu kumuh miskin semrawut yang kumudian diperpanjang menjadi “kumisan” demi mencakup kondisi keamanan yang labil. 


Saya khawatir mereka tidak menyadari apa yang menyebabkan “kumisan” yang mereka kecam itu. Andaikata mereka menyadari nya, mereka pasti tidak akan selancang bunyi kecamannya. Sebab bila mereka terpilih menjadi Gubernur dan wakil gubernur dan berhasil membangun kota Jakarta, Ibu Kota yang mereka pimpin akan “kumisan” pula. Dengan kata lain, kondisi “kumisan” jakarta selama ini justru pertanda keberhasilan Fauzi bowo dalam membangun. Hal ini adalah bukti nyata dari kinerja terpuji dari Bang Fauzi selaku Gubernur DKI jakarta, tanpa gembar-gembor persloganan dan pencitraan politik. “Eere wie eere tokomt” penghormatan pada siapa yang wajar dihormati dan sebagai warga beradab kita pantas mengucapkan terima kasih. 


Betapa tidak, DKI Jakarta adalah sebuah kota dan di negara "negara non totaliter, per definisi, kota adalah suatu pemukiman berupa aglomerasi bebas dari manusia. Kota ibarat cahaya bagi laron. Manusia pergi bermukim ke satu kota karena berharap, bahkan yakin, bisa mendapkan suatu penghidupan yang lebih layak, dalam term “to have more” dan “to be more” dari pada di tempat tinggalnya semula yang dia tinggalkan. 


Perkembangan pesat Jakarta di aneka bidang kehidupan melalui kebijakan pembangunan Bang Fauzi memang dapat memenuhi ekspektasi human tersebut, wong buangan sampahnya saja bisa memberikan nafkah yang halal. Tidak sedikit jumlah rumah mewah di Tegal, Cirebon dan Pekalongan dengan garasi berisi mobil Mercy adalah milik orang-orang yang kaya raya berkat jualan bakso keliling di jakarta. Anak-anak mereka bisa menjadi “orang” , “to be more”, karena lembaga-lembaga pennidikan yang dibangun oleh Gubernur Fauzi Bowo. 


Jadi orang-orang daerah berduyun-duyun datang bermukim di jakarta karena pembangunan di daerah asal mereka mereka relatif kurang menjanjikan. Menjelang lebaran dan tahun baru kelihaan betapa gelombang arus mudik ke daerah jauh lebih besar ketimabang dari daerah ke Jakarta. Sesudah hari-hari besar tersebut serbuan orang orang daerah tersebut jauh lebih besar lagi karena ditambah dengan para pendatang baru. Maka Jakarta menjadi penuh sesak hingga ke bantara sungai, bahkan ada yang sampai membangun gubuk di atas aliran sungai. Jakarta kelihatan kumuh. 


Fauzi Bowo tidak berhak melarang mereka tinggal dan mencari nafkah di Jakarta karena mereka adalah warga negara, rakyat yang katanya “pemilik” Indonesia. Untung ada pembangunan di Jakarta. Bila baik di daerah maupun di Ibu Kota NKRI tidak ada pembangunan, mungkin lama kelamanaan “rakyat” tersebut menjadi “bosan“. Sebagai warga negara Indonesia, bisa saja mencari ideologi lain selain pancasila. Maka Fauzi bowo secara tidak langsung sudah turut menyelamatkan citra terpuji Indonesia di kalangan rakyat miskin, wong cilik. 


Fauzi Bowo tidak berwenang mendiktek konsep pembangunan daerah yang berada di luar yuridiksi penugasannya, walaupun dia mampu berbuat demikian berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya. 


Fauzi Bowo tidak berhak mencegah warga Jakarta membeli motor dan mobil sebagai alat transportasi pribadi karena benda-benda tersebut dijadikan pula bukti keberhasilan mereka “merantau” ke Jakarta. Sedapat mungkin bisa melebarkan jalan-jalan yang sudah ada, karena ia sudah sampai ke tepi dinding rumah orang hingga meniadakan trotoar bagi pejalan kaki. Lalu lintas menjadi semrawut. kalaupun di paksakan ada, lantas diserbu penduduk miskin dari daerah untuk berjualan karena para pejalan kaki merupakan pembeli potensial. 


Bukan tugas Fauzi Bowo untuk membuat Jakarta melulu menjadi pusat kegiatan politik / pemerintahan dan kemudian memindahkan kegiatan ekonomi-perdagangan, Industri dan finansial yg berpusat di kota-kota lain. 


Padahal pemusatan kegiatan politik dan ekonomi yang dibiarkan tumbuh secara alami di wilayah ibu kota negara justru merupakan penyebab terbesar dari anomali yang begu kasat mata di Jakarta. Dengan kata lain “kumisan” DKI Jakarta adalah “topeng” yang menutup-nutupi keberhasilan kinerja Fauzi Bowo mengurus Ibu kota


Mengkumiskan 


Ada yang mengatakan bahwa melalui pilgub, warga jakarta sudah menyatakan hasratnya untuk adanya perubahan. Kalau perubahan menyangkut arah / cara pembangunan agar bisa lebih laju pertumbuhannya, berarti akan kian mengkumiskan Jakarta, tambah mempertebal topeng yang menyembunyikan keberhasilan kinerja Gubernur.


Mau mengubah “orang” ? Jangan sekali-kali mengubah asal berubah person-pemimpin. Di antara semua Cagub di Pilgub baru baru ini, Fauzi Bowo adalah satu-satunya person pelaksana yang “pricesely knows his trade about and in Jakarta”. Bayangkan ! dia adalah satu-satunya Cagub DKI Jakarta yang telah berkiprah selama 34 tahun di lembag pemerintahan yang bertugas mengurusi Kota ini. Sejak tahun 1978 itu dia meniti kariernya dari jenjang terendah hingga yang tertinggi, berugas berurut-turut di beberapa biro dan dinas penting dari pemerintahan Ibu Kota dalam membantu kinerja 6 Gubernur (1978 " 2002), menjabat Wakil Gubernur (2002-2007) dan Gubernur (2007-2012) 


Jakarta punya masa lalu dan sebagai satu pemukiman yang “hidup”, masa lalu nya ini berbatasan dengan masa depan. Masa sekarang yang secara teoritis, memisahkan kedua masa tersebut, berupa garis yang begitu subtil hingga berfungsi semata-mata menghubungkan dan menyatukan masa lalu dan masa depan tadi. Dari penggabungan dan penyatuan inilah masa lalu dan masa depan menyimpulkan makna masing-masing. Masa sekarang, paling sedikit bagi dan dalam diri manusia "pemukim Jakarta , merupakan perahu yang sarat dengan memori dan ekspektasi. 


Fauzi Bowo punya kompetensi tinggi untuk mewujudkan ekspektasi itu. Laju pembangunan Jakarta selama ini memungkinkan kita sejujurnya menanggapi pengalaman teknis dan administratif Fauzi Bowo sebagai melodi intelektual yang dia lewati dalam menangani aneka ragam masalah kehidupan DKI Jakarta. 


Masa lalu kota ini dan person Fauzi Bowo bertaburkan affirmasi dan justifikasi dari penunjukkan kembali dirinya selaku Gubernur terpilih di DKI Jakarta untuk masa jabatan 2012 " 2017. 


Mari kita pikirkan serius masalah yang menyangkut masa depan pemukiman kita sebagai suatu pembangunan urban yang berkelanjutan dan manusiawi melalui partisipasi pikiran jernih dari penduduk, terutama dari lapisan warga yang terdidik. 


Masih ada waktu untuk berpikir menjelang hari putaran kedua Pilgub. Pikir itu pelita hati, salah pikir binasa diri. 


Oleh Daoed Joesoef 
Penulis adalah alumnus Universite Plurdisciplinaires Phatheone-Sorbonne. France
[telah diedit seperlunya spy pesan yg disampaikan lebih jelas]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar