Rabu, 08 Agustus 2012

2014, Air Kanal Banjir Barat Bisa Diminum

BERITAJAKARTA.COM — 30-06-2012 14:27
Upaya penyediaan air bersih bagi warga Jakarta dengan memanfaatkan sumber-sumber air yang selama ini belum terkelola dengan baik terus dilakukan PAM Jaya. Bahkan, pada 2013 PAM Jaya akan membangun jaringan pengolahan air bersih di kawasan Jembatan Besi, Jakarta Barat. Program pengolahan air baku yang bersumber dari Kanal Banjir Barat (KBB) ini akan melibatkan pihak swasta. Saat ini proses pelaksanaan proyek menunggu perizinan dari Pemprov DKI Jakarta dan pemerintah pusat. Ditargetkan proses lelang proyek senilai sekitar Rp 120 miliar ini akan rampung akhir 2012, agar pada 2013 bisa dibangun, sehingga pada 2014 sudah bisa dimanfaatkan hasilnya.

Dirut PAM Jaya, Sri Widayanto Kaderi mengatakan, KBB layak dijadikan produksi air baku untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Jakarta. Namun, untuk merealisasikan itu, pihaknya masih menunggu proses perizinan pengolahan air dari Pemprov DKI dan pemerintah pusat.

"Untuk tahap awal, kami targetkan kapasitas produksi di tempat pengolahan air bersih di Jembatan Besi sebanyak 300 liter per detik. Kemudian secara kontinyu akan terus dilakukan peningkatan sehingga pada tahun 2014 produksinya mencapai 1.000 liter per detik," ujar Sri Widayanto Kaderi, saat menghadiri workshop di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (30/6).

Sri menyebutkan proyek ini menggunakan sistem
 built over transfer (BOT). Sehingga pihak swasta yang akan membangun proyek tersebut dan air hasil olahan itu nantinya dijual pada pihak ketiga. Namun mengingat sumber air yang ada saat ini sangat keruh, maka butuh biaya tinggi dalam pengolahan. Sehingga air hasil olahan yang dijual pun dipastikan akan mahal. Yakni sekitar Rp 2.300 per liter kubik. Harga tersebut masih dapat diturunkan sampai Rp 2000, jika ada pihak-pihak yang keberatan.

Menurutnya, proyek pengolahan air bersih itu berada di atas lahan seluas 2.400 meter persegi. Lahan tersebut adalah milik Pemprov DKI Jakarta, yang terletak di kawasan Jembatan Besi.

Head Corporate Communications and Social Responsibilities
 PT Palyja, Meyritha Maryani, mengatakan, penyediaan pengolahan air bersih di Jembatan Besi ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk menambah produksi air bersih PT Palyja. Diketahui, kapasitas produksi yang ada saat ini mencapai 8.300-8.600 liter per detik. Namun sayangnya, pasokan air baku dari Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat hanya mampu menyediakan 5.600-5.800 liter per detik (61 persen), padahal idealnya maksimal 6.200 liter. Untuk menutupinya, PT Palyja harus memasok air dari Cisadane sebanyak 2.500 liter per detik (34 persen), Cikokol 100 liter per detik (1 persen) ditambah pasokan dari Kali Krukut di Cilandak sejumlah 400 liter per detik (4 persen).

Sedangkan untuk membeli dari PDAM Kabupaten Tangerang biayanya sangat tinggi. Yakni rata-rata Rp 2.205 per meter kubik atau senilai Rp 194 miliar. Padahal harga beli air baku dari Jatiluhur hanya berkisar Rp 172 per meter kubik atau Rp 28,9 miliar. Karenanya, pihaknya berharap pemerintah perlu mencarikan solusi guna mencari alternatif sumber air baku tersebut. Ia juga berharap, hadirnya pengolahan air baku di Jembatan Besi ini dapat menjadi solusi terbaik.

"Ketergantungan air baku dari luar Jakarta, membuat pelayanan air bersih sangat mudah mengalami gangguan. Jika ada masalah pada pompa air di Cawang atau ada gangguan listrik, air baku tidak bisa dikirim ke Instalasi Pengolahan Air di Pejompongan. Demikian halnya jika ada gangguan dengan air curah yang dibeli dari PDAM Tangerang. Sedangkan sungai yang ada di Jakarta tidak dapat diandalkan sebagai sumber air baku karena tingkat pencemarannya yang sangat tinggi," tandasnya.


sumber


Sumber  :  www.beritajakarta.com



Tidak ada komentar:

Posting Komentar