Rabu, 25 Juli 2012

MANIPULASI Jokowi dalam hal kemiskinan di Solo

Keren Jokowi Calon Wali Kota Terbaik Dunia dengan Kemiskinan 24,5% ?

Jangan salah, judul tulisan ini bukan sindiran, tapi realita. Realita yang diungkapkan oleh Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPD) Kota Solo saat melakukan pertemuan dengan sejumlah instansi di kota ini, termasuk Wakil Wali Kota FX Hadi Rudyatmo dan pejabat Bank Indonesia cabang Solo pada Mei 2012 lalu. Tidak diketahui, kemana sang Wali Kota Joko Widodo (Jokowi) saat itu dan kenapa beliau tidak hadir dalam pertemuan tersebut.

Dalam pertemuan itu, Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPD) Kota Solo menyebutkan, jumlah penduduk kemiskinan di kota kecil ini terus meningkat. Pada 2009, jumlah penduduk miskin di Solo tercatat 107.000 jiwa, kemudian naik menjadi 125.000 jiwa pada 2010 dan pada 2011 naik lain menjadi 130.000 jiwa dari total penduduknya 530.000 orang atau sekitar 24,5%. sumber.

Angka itu sekaligus menunjukkan bahwa saat ini sekitar 25 orang dari 100 penduduk Solo hidup di bawah garis kemiskinan. Beda jauh dengan Jakarta, yang penduduk miskinnya berhasil diturunkan menjadi hanya 3,8% atau hanya sekitar 3-4 orang dari 100 penduduk Jakarta yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Tapi anehnya kenapa Jokowi bisa menjadi salah satu calon wali kota terbaik di dunia? Inilah salah satu kehebatan Jokowi dan pendukungnya, memanfaatkan apapun dan dengan segala cara untuk bisa menjadikan sosoknya seakan-akan adalah orang hebat, penuh prestasi, pemerhati masyarakat golongan bawah.

Setelah sukses memanfaatkan mobil Asemka yang semakin tidak jelas masa depannya, Jokowi dan pendukungnya melihat mainan baru yang bisa dimanfaatkan untuk melambung citranya. Salah satunya adalah melalui City Mayors Foundation yang setiap dua tahun sekali membuka kesempatan bagi wali kota yang mau untuk ikut “kontes-kontesan”.

Begitu pendafataran dibuka, Jokowi dan pendukungan mendaftarkan diri untuk ikut serta. Kemudian dengan semangat membabibuta, pendukung mengirim komentar bahwa Jokowi layak menjadi salah satu calon wali kota terbaik. Dan ini langsung diumumkan ke media massa nasional sehingga tersebutlah Jokowi menjadi wali kota terbaik. Dan inilah yang kemudian dijadikan bahan oleh Jokowi dalam iklan kampanye Pilkada DKI Jakarta.

Kenapa bisa begitu? Bagi yang kritis, tentu tidak sulit untuk memahaminya karena pemilihan itu bukan berbasis kinerja. Tapi berdasarkan dukung-dukungan seperti kontes idol-idolan di layar TV. Kalau penilaiannya adalah basis kinerja, bisa dipastikan ikut mendaftar pun Jokowi tidak akan bisa karena banyak prestasinya yang tidak memenuhi standar seperti ketidakberhasilannya mengurangi angka kemiskinan selama 7 tahun menjadi wali kota Solo.

Barangkali berbeda dengan Jokowi dan pendukungnya, Wakil Wali Kota Soko FX Hady Rudyatmo mengakui keabsahan data TKPD itu. Setelah mendapatkan data riil itu, Rudy mengakui bahwa tantangan besar bagi Solo adalah masalah kemiskinan. Dia mengharapkan semua satuan kerja perangkat daerah (SKPD)—termasuk tentunya Jokowi–bisa menerima realita ini sehingga data-data tersebut bisa dijadikan dasar dalam kegiatan-kegiatan dari sumber APBD yang berhubungan dengan penanggulangan kemiskinan.

Bagaimana tanggapan Jokowi? Entahlah, apakah sosok yang digadang-gadang sebagai si rendah hati dan pemerhati masyarakat miskin ini bisa legowo menerima kenyataan ini? Atau Jokowi dan pendukungnya menolak data-data itu, dan mengatakan ah itu kan black campaign.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar