Sabtu, 21 Juli 2012

Kegagalan wisata kuliner Galabo

Dalam hal kreatifitas Jokowi memang patut dipuji. Banyak program yang dia jalankan dalam rangka memajukan kota Solo. Hanya saja, banyak program yang tidak berjalan sesuai rencana karena factor manajemen dan pemeliharaan. Salah satunya adalah program wisata kuliner Gladag Langen Bogan yang lebih dikenal dengan Galabo.

Wisata kuliner malam hari yang berada di kawasan Gladag ini, dibuka pertama kali sejak 13 April 2008. Konsep awalnya, Jokowi ingin mengumpulkan menu-menu kuliner yang selama ini menjadi andalan di kota Solo dalam satu lokasi. Pengunjung yang datang dari luar kota maupun warga Solo sendiri tidak perlu repot-repot mencari lokasi untuk menemukan menu makanan favorit tersebut.

Pihak Pemkot Solo menyediakan gerobak dan semua peralatan lengkap. Sementara pedagang hanya tinggal buka saja. Sudah ada petugas yang secara khusus menyiapkan peralatan dan kemudian membereskan bila para pedagang sudah tutup. “Kami hanya menyiapkan dagangan yang mau kita jual,” kata Ety, salah satu pedagang di Galabo.

Awalnya wisata kuliner berkonsep outdoor ini memiliki 46 pedagang yang menjual 46 menu mulai dari nasi liwet, sate lilit, bebek goreng, ayam goreng dsb. Selama 50 hari pedagang dibebaskan dari segala macam pungutan. Sementara itu, pemkot juga serius mempromosikan kawasan ini dan sudah kerjasama dengan beberapa travel biro.

Semula tempat ini, mulai ramai dikunjungi. Namun entah kenapa jumlah pengunjung makin lama makin menurut. Ini tentu berdampak bagi pedagang. Pedagang yang semula berjumlah 76 orang, makin lama makin menyusut. Kini hanya tinggal 45 orang.

Beberapa pedagang juga mengalami penurunan omset penjualan. Seperti yang dialami Ety (54). Pedagang aneka minuman dan jus ini mengeluh sejak dua tahun terakhir dagangannya sepi. Kalau paa tahun pertama ia bisa mengantongi omset antara Rp 1-2 juta semalam, kini melorot drastic. “Mencari omset Rp 200 ribu saja sehari susah, untung saya masih jualan di rumah,” katanya.

Ety mengaku, penghasilannya berkurang sejak sejumlah pedagang di Galabo menyalahi aturan yang ditetapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo. Setiap pedagang harusnya hanya menjual satu jenis dagangan. Namun, aturan tersebut hanya berjalan satu tahun saja. Saat ini, sejumlah pedagang mulai menjual lebih dari satu jenis dagangan.

Jadi, dagangan jus buah milik Etty sekarang sepi pembeli karena pedagang makanan juga ikut menjual jus buah. “Dulu kan sudah sepakat harus berjualan sesuai dengan yang didaftarkan ke pengelola. Kalau sesuai aturan, semua dagangan di Galabo akan laku,” katanya saat ditemui  belum lama ini.

Kawasan Galabo memiliki dua akses masuk, yakni sisi barat dan sisi timur. Dalam perkembangannya, pintu masuk dari sisi barat lebih ramai karena berdekatan dengan Jalan Slamet Riyadi, jalan utama di Kota Solo. Gerobak dagangan Etty yang ada di sisi timur, semakin sulit menggaet pelanggan, sehingga pelanggannya tak seramai perdagang yang ada di sisi barat.

Bahkan, karena sepi pembeli, sejumlah pedagang Galabo yang berada di sisi timur gulung tikar. Karena sejumlah pedagang lain tutup, kini gerobak dagangan Etty berada di posisi paling timur, di antara deretan gerobak pedagang di kawasan Galabo. “Kalau saya mencoba bertahan meski jualannya sepi,” katanya.

Banyaknya pedagang yang tidak berjualan juga mebuat bagian timur terkesan gelap. Pengunjung pun akhirnya enggan berjalan hingga ke ujung paling timur. Pembeli paling cuma sampai tengah, lalu mereka balik ke arah barat, karena dagangan yang dijual di sisi timur juga tersedia di sisi barat.

Sudah tiga tahun ini kawasa wisata kuliner ini berjalan. Banyak  fasilitas dan infrastruktur pendukung kawasan wisata malam itu pun sudah mulai rusak. Para pedagang mengeluhkan mengeluhkan sanitasi air yang sering mengeluarkan bau busuk.

Selain itu, sejumlah kran air bersih dan wastafel untuk cuci tangan pun sebagian besar rusak, bahkan ada yang hilang. Hasil inventarisasi yang dilakukan pedagang, setidaknya ada enam gerobak rusak, 30 lampu penerangan putus, 30 unit keran air hilang atau rusak, 12 wastafel hilang.

Sejumlah keruskan tersebut, kini telah diperbaiki Pemkot. Namun masalah utama belum terselesaikan, yakni bau busuk yang berasal dari saluran pembuangan dan sejumlah fasilitas wastafel yang rusak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar