Kamis, 19 Juli 2012

Jokowi TIDAK BISA ngurusin transportasi di Solo

Transportasi yg buruk
SOLO: Sebanyak 197 bus kota dari total 281 unit yang beroperasi di Solo, atau sekitar 70% dalam kondisi usang dan berusia lebih dari 10 tahun.
Catatan yang ada di Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Solo menunjukkan setidaknya empat perusahaan otobus (PO) tidak mengurus izin operasional meski telah kedaluwarsa. Pengusaha enggan meremajakan armadanya karena minat masyarakat terhadap moda transportasi ini sangat minim.
Kepala Bidang Angkutan Disubkominfo Solo, Sri Indarjo, mengatakan sekitar 60%-70% bus kota di Solo berusia lebih dari 10 tahun. Menurut aturan, seharusnya bus berusia lebih dari 10 tahun diremajakan.
“Tidak meremajakan bus bukan berarti izinnya hangus. Memang aturannya harus diremajakan, tapi kami memaklumilah karena kondisi perusahaan mereka memang sulit,” terang Indarjo tadi.
Sementara ini, dia melanjutkan, hanya empat PO yang izinnya kedaluwarsa. Hal itu pun seiring dengan tidak beroperasinya armada tersebut. Keempat PO itu adalah Wahyu Mulya, Takwa Putra, Berseri dan SCT. Selebihnya, masih ada 13 PO yang beroperasi di Solo. Semua PO tersebut mengantongi izin, kendati tidak dipungkiri bus-bus yang dipakai sebagian besar dalam kondisi usang.
Lebih jauh, Indarjo menyebut bisnis bus kota stagnan bahkan cenderung turun dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan data pihaknya, dari 281 bus yang tercatat di data Dishubkominfo, hanya 200-an yang beroperasi. Terkait hal itu, 13 PO ke depan akan diarahkan untuk mengelola Batik Solo Trans (BST).
Secara bertahap, 13 PO akan mendapat tanggung jawab mengelola BST yang rencananya beroperasi di tujuh koridor. Diperkirakan, tahun ini pemerintah Solo menerima 50 unit BST yang dioperasikan di koridor dua dan koridor tiga.
“Semua sudah sepakat, untuk mengalihkan semua PO mengelola BST. Tahun ini direncanakan dua koridor dulu,” tandas dia. Koridor dua direncanakan mengambil rute Solo Baru-Bandara, dan koridor tiga dengan rute Semanggi-Mojosongo.
Menanggapi hal itu, Ketua Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Solo, Joko Suprapto, mengakui kondisi PO di Solo memprihatinkan. Membanjirnya mobil pribadi dan sepeda motor, membuat bisnis angkutan tertekan. Lantaran itu, nyaris semua PO tak sanggup meremajakan armada. “Kondisinya memang sulit untuk meremajakan armada,” kata dia.
Joko menambahkan pihaknya dan para pengusaha bus kota sepakat pada rencana Pemkot menjadikan BST satu-satunya armada bus kota di Solo. Rencana itu diimbangi dengan pengurangan jumlah trayek bus kota.
Selama ini, bus kota beroperasi dalam 16 trayek. Selanjutnya trayek bus kota akan dipangkas menjadi 10 trayek atau bisa kurang.
Pengurangan trayek tersebut dinilai efektif mengurai kemacetan yang mulai terjadi di Solo. Meskipun, di sisi lain, Joko berharap Dishubkominfo memiliki kebijakan lain untuk mengatasi masalah kemacetan, yakni dengan mengurangi masuknya mobil pribadi dan sepeda motor. (Solopos/Tika Sekar Arum/Dot)

1 komentar: