Rabu, 11 Juli 2012

Jokowi dan Esemka

Sukiyat


RMOL. Pernyataan Joko Widodo soal harga mobil Esemka berkisar 90-120juta ternyata isapan jembol belaka. Sukiyat, seorang inisiator sekaligus tokoh utama perakit mobil Esemka menyatakan, harga pembuatan mobil tersebut berkisar Rp 200 juta. 

"Kalau untuk membuat dengan harga Rp 90 sampai Rp 120 juta itu juga bisa. Hanya saja dengan dana sebesar itu dengan kualitas berbeda, yaitu di bawah mobil Esemka. Kalau ada yang mau mobil harga 90-120 juta saya bisa membuatkannya. Harga berbeda kualitas berbeda," terang Sukiyat kepada Rakyat Merdeka Online di Trucuk, Klaten, Kamis kemarin (31/5).

Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan pernyataan Walikota Solo Joko Wi yang kini menjadi salah satu calon gubernur DKI Jakarta kalau satu harga mobil Esemka dibanderol Rp 90 juta untuk harga of road, sedangkan harga on road mencapai Rp.120 juta-an. Bagaimana mungkin biaya produksi yang mencapai Rp 200 juta bisa dijual dengan harga di bawahnya. 

Terlebih fakta lain mengungkapkan kalau mobil Esemka hanyalah rakitan, bukanlah buatan orisinil. Sukiyat pun mengakuinya. Teknologi mobil Esemka mengadopsi dari Jerman, Jepang, dan Cina. "Untuk pemilihan teknologi alat seperti oven, alat mixing dan alat lainnya adopsi teknologi Jerman, Cina dan Jepang. Kami membuat body, jok, interior, dan eksterior. Sisanya beli. Jadi bisa dibilang saya hanya merakit," terang Sukiyat.

Mobil Esemka hanyalah rakitan yang menggunakan sejumlah komponen dari mobil lain karena di Indonesia belum dapat memproduksi gigi transmisi. Salah seorang pengamat otomotif, Danie H Soe’oed bahkan membeberkan komponen yang melekat pada mobil Esemka. Menurutnya, mesin Timor digabung transmisi nyomot mobil Cina. Danie juga menunjuk  frame kaca depan belakang mengambil Daihatsu Espass, lampu belakang dari Panther. Sedangkan lampu depan punya Honda CRV. Untuk komponen kaki-kaki mobil Esemka sendiri menggunakan L-300 dan Kijang.

Namun Jokowi sendiri jauh hari gegap gepita mengumandangkan Mobil Esemka akan menjadi mobil nasional dan yakin diproduksi massal. Padahal, Sukiyat sebagai orang yang menjadi pelopor saja merasa tak yakin. "Perkembangan selanjutnya akan mandek. Bikin banyak-banyak juga buat apa?," seru dia.

Meski begitu Sukiyat masih menunggu hasil uji emisi jilid dua yang diadakan setelah pertengahan Juni mendatang. Senin pekan lalu, mobil Esemka kembali mendatangi Balai Termodika Motor dan Propulsi (BTMP) di Serpong setelah kesempatan uji emisi pertama dinyatakan tidak lolos. 

Pada kesempatan pertama, standar emisi yang ditetapkan oleh Kemnterian Lingkungan Hidup untuk mobil baru harusnya membuang karbondioksida (CO) dengan 5 gram per km dan HC+NOx standar 0,70 gram/km. Namun mobil Esemka Rajawali ini emisi pembuangannya masih cukup tinggi, yaitu CO-nya 11,63 gram/km dan HC+NOx sebesar 2,69 gram/km.

Sukiyat lantas mengaku bersama tim mengaku sudah melakukan perbaikan atas kesalahan pada uji emisi pertama. "Saya menyerahkan sepenuhnya dari hasil layak atau tidaknya. Kita lihat saja," papar Sukiyat. [ysa]



http://nusantara.rmol.co/read/2012/06/01/65768/Ternyata-Pernyataan-Jokowi-Cuma-Isapan-Jempol-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar