Sabtu, 28 Juli 2012

Nafsu besar tenaga kurang KEGAGALAN Jokowi dan City Walk

Salah satu impian Jokowi dalam mewujudkan kota Solo menjadi kota yang nyaman dan asri adalah dengan membangun kawasan City Walk di kawasan Jl. Slamet Riyadi, yang terbentang antara Purwosari sampai Gladag/Pasar Gede. Konsepnya, kawasan ini akan menjadi asset wisata baru. Para pengunjung berjalan kaki dan menikmati fasilitas yang ada di kawasan ini.
Dengan menghabiskan anggaran Rp 1.3 milyar, kawasan Citywalk mulai diresmikan sejak 1 Oktober 2007 bertepatan dengan  peringatan Hari Habitat Nasional. Kawasan ini sebenarnya diharapkan menjadi daya tarik tersendiri sebagai wahana wisata bagi warga dalam rangka berinteraksi, bersosialisasi, sekaligus rekreasi.
Sayang seribu sayang setelah memasuki tahun kelima, kawasan ini sepertinya tidak mendapatkan respon warga. Kawasan Citywalk belum menjadi daya tarik sebagai tujuan wisata sebenarnya. Kalangan anggota dewan, menganggap Citywalk merupakan salah satu proyek gagal yang dikelola Jokowi. ”Ini jelas-jelas proyek gagal karena tidak ada kelanjutannya, sekarang hanya digunakan tempat mangkal PKL dan tukang becak,” kata Supriyadi, wakil ketua DPRD Kota Surakarta.
Karena itulah, Supriyadi mengaku langsung menolak ketika Pemkot Solo mengajukan anggaran untuk pembangunan citywalk di kawasan lain sepanajng 10 km yang akan menghubungkan jalan protocol di dalam kota. “Yang pertama saja gagal mau membangun Citywalk lagi,” kata Supriyadi.
Masih menurut Supriyadi, pembangunan Citywalk tanpa melalui kajian yang mendalam dan kesannya hanya gagah-gagahnya saja. Dampak dari proyek ini, justru menimbulkan banjir karena system drainase yang tidak digarap dengan baik. Selain itu, para pemilik toko di kawasan ini juga mengalami kerugian karena harus bongkar muat di tempat yang jauh, tidak lagi bisa dilakukan di depan toko seperti sebelum citywalk dibangun.
Sementara itu, dampak dari pembangunan Citywalk tersebut, tukang becak dan sepeda kehilangan akses jalan. Mereka tidak lagi memiliki jalur lintasan di kawasan Jl, Slamet Riyadi, apalagi tempat parkir.
Konsep City Walk mengadopsi dengan apa yang ada di Orchad Road di Singapura. Ketika berkunjung di negeri singa tersebut, Jokowi nampak terpana karena kawasan ini menarik bagi para wisatawan.
Di sepanjang Orchard Road banyak sekali bangunan-bangunan komersial seperti hotel dan pusat perbelanjaan berlabel mall, shopping center, galeri, plasa, square dan nama-nama pusat perbelanjaan lain. Ada lebih dari 50 pusat perbelanjaan dan deretan pertokoan di sepanjang Orchard Road. Di mana jalan ini bersambungan dan berdekatan dengan Marina Bay dan City Centre.
Di kawasan Orchad Road, juga banyak ditemukan bangunan penting seperti Museum Raffles Landing Site, Singapura Art Museum, Singapura City Gallery, Singapura History Museum, Singapura Philatalic Museum, Theatre dan Concert Hall, pengunjung juga bisa menemukan taman-taman kota dan bangunan-bangunan megah kantor Parliament House dan beberapa gedung kedutaan besar. Bahkan tempat ibadah mulai dari pura, mesjid dan gereja tersedia di sana.
Kehidupan di kawasan Orchad Road memang sangat nyaman dan aman. Hal ini terjadi karena didukung infrastruktur yang memadai, sumber daya manusia serta financial yang mencukupi untuk maintenannya. Selain itu juga aparat di lapangan dan birokrasi yang memang memiliki dedikasi yang sangat baik, tertib, teliti dan bertangungjawab.
Sarana tranportasi juga sangat mendukung, mulai dari kereta cepat maupun bus yang menjamin kecepatan, keamanan, kenyamanan bahkan keselamatan penumpangnya.
Yang juga tak kalah penting, jumlah kendaraan bermotor pribadi di Singapura sangat dibatasi. Parkir mobil juga diatur dengan tertib. Setiap bangunan memiliki ruang parkir khusus.
Yang jelas mereka yang berlalu lalang di Orchid dijamin tidak akan menemukan pengamen, gelandangan apalagi pengemis, maupun pemulung. Kalaupun ada PKL, keberadaannya sangat diatur dengan rapi. Tidak adanya kesenjangan sosial, memang memungkinkan semuanya terjadi.
Ir. Kusumastuti,MURP dosen Arsitektur UNS melihat bahwa potensi yang ada di kawasan Jl. Slamet Riyadi tidak cukup mendukung untuk membuat City walk seperti yang ada di Orchad Road Singapura.
Kalaupun ada bangunan perkantoran, hotel, mall, museum, sriwedari, toko batik Danarhadi, Luwes, dsb, belum mampu menjadikan Citywalk sebagai magnet yang menarik wisatawan datang ke sana. Tak mengherankan bila saat ini, proyek City walk terkesan mangkrak.

Jalan Menganga Coreng Jokowi
Rabu, 01/02/2012 06:00 WIB - Angga Purnama

Ironis. Jalan publik di dekat rumah dinas Walikota Surakarta, Loji Gandrung tidak semulus pamor Walikota Joko Widodo(Jokowi). Percaya atau tidak, ada lubang city walk menganga dengan kedalaman dan diameter satu meter di sebelah barat Loji Gandrung.

Pemandangan itu, setidaknya telah mencoreng pamor Loji Gandrung sekaligus penghuninya, Walikota Jokowi. Bagaimana tidak, infrastruktur penting di dekat hunian penguasa Kota Solo saja sampai rusak separah itu.
”Lubang itu sudah ada sekitar seminggu ini. Awalnya hanya dua paving yang berlubang. Tapi karena hujan, lama-kelamaan semakin dalam dan membesar,” kata Setiawan,  Satpam salah satu bank swasta yang lokasinya berdekatan dengan lubang jalan itu, Selasa (31/1).

Menurutnya, belum lama ini sudah ada petugas yang melakukan pengukuran di sekitar area lubang itu. Hanya saja, sampai kemarin, jalan menganga itu belum juga dibenahi. ”Kami berinisiatif untuk menaruh dahan atau ranting ke dalam lubang, biar orang yang lewat tahu dan tidak terperosok,” ujarnya.
Jalan menganga itu, kata Setiawan, bisa membahayakan pejalan kaki, khususnya pada malam hari. Karena sorot lampu penerang jalan tertutup pohon-pohon yang rimbun di kawasan itu.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Agus Djoko Witiarso, mengatakan, penyebab utama rusaknya city walk di Jalan Slamet Riyadi itu karena disalahgunakan untuk lalu lintas kendaraan sepeda motor hingga mobil. ”Lantaran tidak kuat menahan beban yang  terlalu berat dari kendaraan bermotor, terutama mobil, lama kelamaan permukaan jalur city walk semakin menurun,” katanya.

Menurunnya permukaan jalur tersebut, menurut Agus, menyebabkan rekahan yang terjadi di bawah paving yang semakin lama, semakin melebar. ”Tanah di area city walk cukup labil. Jadi karena diguyur hujan, rekahan tadi lama kelamaan akan semakin lebar dan menjadi longsor kecil,” kata Agus.
Untuk memperbaikinya, Agus mengaku tidak semudah yang dibayangkan. Karena, pengajuan dana terpentok pada protokoler yang berlaku. Untuk sementara pihaknya akan menimbun lubang tersebut dengan tanah serta menutupnya dengan pelat baja. ”Kami tidak bisa serta-merta mengeluarkan anggaran, ada prosedur yang harus kita patuhi,” katanya.
Angga Purnama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar